Assalamualaikum.....

Terimakasih telah mengunjungi situs ini, semoga materi-materi yang terdapat di dalamnya dapat bermanfaat untuk kita semua....
Amin ya robbal alamin.....

Rio Cool

Rio Cool
Handsome Boy
Loading...

Senin, 08 Februari 2010

ASKEP FRAKTUR ANTEBRACHII (PRE DAN INTRA ORIF)

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN FRAKTUR ANTEBRACHII (PRE DAN INTRA ORIF) DI RUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL

A.PENGERTIAN
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.

B.JENIS DAN ETIOLOGI
Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu :
1.Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).
2.Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular.
3.Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
4.Fraktur Montegia
Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung.

C.PATOFISIOLOGI
Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.
Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).

D.MANIFESTASI KLINIK
Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
-Fraktur Colles
a.Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius
b.Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal
c.Subluksasi sendi radioulnar distal
d.Avulsi prosesus stiloideus ulna.
-Fraktur Smith
Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (garden spade deformity).
-Fraktur Galeazzi
Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna.
-Fraktur Montegia
Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.

E.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius.
Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah
1.Pemeriksaan rontgen
2.Scan CT/MRI
3.Kreatinin
4.Hitung darah lengkap
5.Arteriogram

F.PENATALAKSANAAN
Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
-Fraktur Colles
Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu.
-Fraktur Smith
Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 minggu.
-Fraktur Galeazzi
Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi.
-Fraktur Montegia
Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90° dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

G.KOMPLIKASI
Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi :
1.Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala
a.Syok neurogenik
b.Kerusakan organ syaraf
2.Early complication
a.Kerusakan arteri
b.Infeksi
c.Sindrom kompartemen
d.Nekrosa vaskuler
e.Syok hipovolemik
3.Late complication
a.Mal union
b.Non union
c.Delayed union

H.PATHWAYS
Trauma langsung
trauma tidak langsung
jaringan tidak kuat atau tidak dapat menahan
kekuatan dari luar
FRAKTUR
Perubahan letak fragmen kerusakan bagian-bagian lunak
Kehilangan fungsi kerusakan jaringan saraf
Keterbatasan gerak
Imobilitas Tindakan
Sirkulasi perifer berkurang
Konservatif Operatif Prosedur pembedahan
Iskemik
Gips Traksi OREF ORIF
Nekrosis jaringan Luka

I.ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1.Pemeriksaan Fisik
a.Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan
b.Pembengkakan
c.Pemendekan ekstremitas yang sakit
d.Paralysis
e.Angulasi ekstremitas yang sakit
f.Krepitasi
g.Spasme otot
h.Parestesia
i.Tidak ada denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila aliran darah arteri terganggu oleh fraktur
j.Kulit terbuka atau utuh
k.Perdarahan, hematoma
2.Riwayat imunisasi tetanus bila ada fraktur yang terbuka
3.Pemeriksaan Diagnostik
Foto sinar X dari ekstremitas yang sakit dan lokasi fraktur
4.Pengkajian kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

PERSIAPAN PRE OPERASI
1.Diet
8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi dengan anaesthesi umum.Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anaesthesi makanan ringan diperbolehkan.
2.Persiapan perut
Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.

3.Persiapan kulit
Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi. Rambut pubis dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah kulit yang akan dioperasi. Luas daerah yang dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.
4.Pemeriksaan penunjang
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
5.Persetujuan operasi/informed consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat. Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.
INTRA OPERASI
1.Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operasi
Anggota steril
a.Ahli bedah utama / operator
b.Asisten ahli bedah.
c.Scrub Nurse / Perawat Instrumen
Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :
a.Ahli atau pelaksana anaesthesi.
b.Perawat sirkulasi
c.Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).
2.Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.
a.Persiapan Psikologis Pasien
b.Pengaturan Posisi
c.Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.
d.Penutupan Daerah Steril
e.Mempertahankan Surgical Asepsis
f.Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh
g.Monitor dari Malignant Hyperthermia
h.Penutupan luka pembedahan
i.Perawatan Drainase
j.Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
a.Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak
b.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi
c.Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan sirkulasi, fraktur terbuka
d.Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan dan hasil akhir pembedahan
e.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan
Intra Operasi
a.Cemas
b.Resiko perlukaan/injury
c.Resiko penurunan volume cairan tubuh
d.Resiko infeksi
e.Kerusakan integritas kulit

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri berkurang

Intervensi :
a.Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri
Rasional : Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
b.Imobilisasi bagian yang sakit
Rasional : Untuk mempertahankan posisi fungsional tulang
c.Tingikan dan dukung ekstremitas yang terkena
Rasional : Untuk memperlancar arus balik vena
d.Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi
Rasional : Agar klien rileks
e.Berikan obat analgetik sesuai indikasi
Rasional : Untuk mengurangi nyeri
2.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi
Tujuan : mobilitas fisik tidak terganggu
Kriteria : meningkatkan /mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
Intervensi :
a.Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cidera
Rasional : Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
b.Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik
Rasional : Melatih kekuatan otot klien
c.Bantu dalam rentang gerak pasif/aktif yang sesuai
Rasional : Melatih rentang gerak aktif/pasif klie secara bertahap
d.Ubah posisi secara periodik
Rasional : Untuk mencegah terjadinya dekubitus
e.Kolaborasi dengan ahli terapis/okupasi dan atau rehabilitasi medik
Rasional : Melatih rentang gerak aktif/pasif klien secara bertahap
3.Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan sirkulasi, fraktur terbuka
Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria : klien memperlihatkan integritas kulit tetap baik
Intervensi :
a.Kaji kulit untuk luka terbuka terhadap benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna
Rasional : Memberikan informasi mengenai keadaan kulit klien saat ini
b.Massage kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
Rasional : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan berisiko rusak
c.Ubah posisi dengan sering
Rasional : Untuk mencegah terjadinya dekubitus
d.Bersihkan kulit dengan air hangat/nacl
Rasional : Mengurangi kontaminasi dengan agen luar
e.Lakukan perawatan luka secara steril
Rasional : Untuk mengurangi resiko gangguan integritas kulit
4.Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan
Tujuan : cemas berkurang
Kriteria : menggunakan mekanisme koping yang efektif
Intervensi :
a.kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat, panik).
Rasional : untuk mengetahui tingkat kecemasaan klien
b.Dampingi klien
Rasional : agar klien merasa aman dan nyaman
c.Beri support system dan motivasi klien
Rasional : meningkatkan pola koping yang efektif
d.Beri dorongan spiritual
Rasional : agar klien dapat menerima kondisinya saat ini
e.Jelaskan jenis prosedur dan tindakan pengobatan
Rasional : informasi dapat menurunkan ansietas
5.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu
Intervensi :
a.Inspeksi kulit adanya iritasi atau robekan kontinuitas
Rasional : Untuk mengkaji adanya iritasi atau robekan kontinuitas
b.Kaji kulit yang terbuka terhadap peningkatan nyeri, rasa terbakar, edema, eritema dan drainase/bau tak sedap
Rasional : Untuk mengetahui ada/tidaknya tanda-tanda infeksi
c.Berikan perawatan kulit dengan steril dan antiseptik
Rasional : Untuk mengurangi resiko infeksi
d.Tutup dan ganti balutan dengan prinsip steril setiap hari
Rasional : Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
e.Berikan obat antibiotic sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi

J.DAFTAR PUSTAKA
Doenges M, 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pemdokumentasian Perawatan pasien. Edisi III. EGC:Jakarta
Long, B.C, 2000. Perawatan Medikal Bedah. Edisi VII. Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran:Bandung
Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius:Jakarta
http://medlinux.blogspot.com/2008/07/fraktur-coles.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar